Oleh: Fredy
Manusia
diciptakan oleh Tuhan, itulah yang dikatakana oleh para agamawan dan
masyarakat yang beragama. Para saintis mengatakan manusia adalah bentuk evolusi
yang berjalan jutaan tahun lamanya. Lalu siapa yang harus di percaya? Semua
memilih jalannya sendiri, saling menyindir dan menyerang, saling mengklaim tentang
apa yang sudah di wariskan kepada masing-masing dari mereka. Agama menyebutkan
bahwa manusia di bentuk dari tanah. Apa mungkin pernyataan ini terinspirasi
dari seniman-seniman patung? Sains (walaupun banyak yang tidak setuju), lewat
Charles Darwin menyebutkan manusia merupakan bentuk evolusi dari kera. Bukankah
hal ini merupakan sebuah penghinaan? Manusia memang selalu memberikan
pernyataan-pernyataan yang mengklaim tentang diri mereka sendiri lewat
instansi-instansi mereka. Namun mereka tidak pernah merenung tentang hal ini.
Mereka seperti navigator yang hilang arah.
Para
sintis menjadikan pendahulu mereka sebagai peta navigasi untuk mencari
kebenaran-kebenaran universal baru yang mereka percaya tanpa pernah melihat
diri mereka sendiri. Lalu agama tetap pada pendiriannya, tetap mengatakan bahwa
manusia di ciptakan Tuhan dari tanah. Mereka seperti seorang anak kecil yang
ketika melihat kemaluannya lalu bertanya kepada orang tuanya, ‘apa itu?’, tanpa
tahu fungsinya. Mereka bodoh dan tolol. Mereka bukan bodoh karena tidak tahu, mereka bodoh karena puas tidak tahu. Ini bukan kebodohan yang bisa dimaafkan. Ini kebodohan yang dipilih dirawat, dan diwariskan dengan bangga. Kebenaran apa yang sebenarnya dicari
dari para sintis? Apakah tentang diri mereka? Ataukah karena mereka tidak
benar-benar mengenal diri mereka sendiri? Lalu bagaimana dengan agama? Bukankah
mereka lebih bodoh dari para saintis? Mereka terus mempertahankan narasi mereka
yang sesat itu tanpa pernah bertanya di mana orang yang menciptakan mereka. Ketika
ada yang bertanya tentang Tuhan kepada para pemuka-pemuka agama, mereka akan
menjawab bahwa Tuhan ada di dalam hati setiap manusia. Pernyataan ini terdengar
sangat mulia, sangat agung, dan sangat sakral. Tapi bukankah itu bentuk
penghindaran paling halus? Bukankah dengan memberi pernyataan seperti itu
membuat seseorang berhenti bertanya lebih jauh?
Setelah
semuanya itu, kemana lagi manusia harus mencari jawaban atas dirinya sendiri? Manusia
telah dibodohi selama berabad-abad, dan hingga sekarang mereka masih saja
bodoh, mereka masih saja mempertahankan apa yang mereka percaya, masih saja
memperdebatkan apa yang menjadi pembeda diantara mereka. Manusia telah masuk dalam
jurang yang mereka bangun susah payah selama berabad-abad, dan mereka merasa
sangat nyaman di dalam jurang yang gelap, pengap, bau, dan kotor itu. Mereka
tak pernah sekali saja berpikir untuk meninggalkan jurang itu dan melihat sesaat
yang lebih terang di luar jurang itu. Dekadensi yang di bangun sepanjang
perjalanan mereka menjadi sebuah keyakinan boborok yang diangung-agungkan.