Thursday, 5 February 2026

Dari Tuhan ke Budak: Sebuah Anatomi Penipuan Besar-besaran




By: Fredy

Agama sering disebut jalan kebenaran, sebuah lorong paling terang yang menuntun manusia dengan ritual-ritualnya yang sakral, atau doktrin-doktrinnya yang terdengar baik di telinga. Agama selalu menjadi prioritas manusia sebelum melakukan segala aktivitas, dengan melakukan ritualnya dengan rutin dan taat. Lalu apakah ini benar-benar jalan yang benar? Ataukah hanya sebuah konstruksi yang dibangun untuk memasung manusia dari kebebasan? Atau yang lebih buruk lagi, menjadikan manusia budak? Banyak orang percaya bahwa agama adalah jalan yang benar dan menuntun ke arah yang seharusnya di tuju manusia. Sebuah kenyataan dunia modern menghancurkan pernyataan-pernyataan itu. Agama hanyalah sebuah label yang di pasang manusia untuk memanipulasi manusia lain. Mereka menjadikan agama seolah-olah sebuah prioritas, namun kenyataannya mereka menaruh maksud dibalik itu, mereka bersembunyi dibalik nama agama agar kedok mereka tidak terbongkar, agar kepelacuran dan kebobrokan mereka bisa di samarkan.

Setiap kali perdebatan tentang agama dilantunkan atas dasar edukasi, mereka selalu melakuakan bias perspektif agar apa yang mereka yakini bisa tetap utuh dan tidak di serang, mereka membangun narasi yang terdengar kuat agar siapapun tidak menghakimi, dan inilah keborokan mereka, inilah bentuk terendah dari ketelanjangan intelektual. Ketika ada yang mengatakan bahwa salah satu agama menyesatkan, ia akan di serang, mereka menganggap orang-orang ini sebagai manusia tak bermoral. Lalu bagaimana dengan mereka yang menyerang itu? Apakah mereka benar-benar suci? Ataukah mereka hanya takut eksistensi mereka terancam? Mereka menganggap orang-orang di luar dari mereka (agama) adalah yang tersesat, mereka menganggap setiap perkataan menyindir adalah sebuah penghakiman. Mereka kemudian melakukan sebuah tindakan paling ekstrim, yaitu mengasingkan yang berbeda dari mereka dari masyarakat, menganggap yang berbeda ini gila, dan munafik. Lalu bagaimana dengan mereka? Apakah tidak lebih munafik mereka yang besembunyi di balik cermin kemunafikan peradaban ini, sebuah konstruksi yang di bangun untuk mengontrol yang lemah ini?

Ketika berbicara tentang agama, moralitas adalah yang paling dekat dengannya. Moralitas adalah fondasi yang dibangun untuk mengokohkan konstruksi peradaban yang bobrok ini, dan inilah patologisnya, sebuah kecacatan yang dipertahankan untuk mengontrol, membungkam dan menakut-nakuti. Apakah manusia harus terus di kekang? Apakah manusia harus menjadi budak dari fondasi peradaban yang bobrok dan cacat ini? Bagaimana manusia bisa keluar dari sana?

Mereka yang sekarang membaca meresa bahwa, 'ah ini berbicara tentang orang fanatik, bukan aku'. Inilah bentuk kemunafikan yang paling halus, menganggap bahwa kita selalu menjadi pengeculaian dari sebuah kritik. Lalu apakah doa benar-benar nyata, ataukah hanya pengajaran yang dibuat untuk menenangkan yang sudah pasrah?

No comments:

Post a Comment

Dari Tuhan ke Budak: Sebuah Anatomi Penipuan Besar-besaran

By: Fredy Agama sering disebut jalan kebenaran, sebuah lorong paling terang yang menuntun manusia dengan ritual-ritualnya yang sakral, atau ...