Wednesday, 4 February 2026

Delusi Kolektif yang Disebut ‘Kebersamaan’: Sebuah Otopsi

 oleh: fredy

Manusia lahir untuk menjadi sendiri, dan ini tak bisa terbantahkan, karena pada akhirnya kematian menjemput untuk tidur dalam kesendirian. Kita menganggap bahwa keluarga, teman, sahabat bahkan pasangan adalah orang-orang paling berharga dalam hidup kita, namun kenyataannya mereka bukanlah bagian dari diri kita, mereka hanyalah bagian dari perjalanan kita yang punya batasnya. Manusia sering menganggap bahwa kebersamaan selalu menyenangkan bahkan menenangkan, dan inilah yang di dambakan, kata mereka. Kita tidak pernah bertanya lebih jauh dari itu, kita hanya terbatas pada pengakuan yang mengawang, sebuah kesalahan yang sering dianggap mulia dalam kehidupan, anggapan bahwa mereka akan tetap ada bersama kita adalah sebuah konsekuensi dari kesendirian, disinilah titik tertinggi dari kehilangan makna kehidupan, dan mereka tetap mempertahankan ini.

Bahagia selalu menjadi salah satu tujuan dalam perjalanan manusia, mereka menganggap bahwa bahagia adalah ketika kita mencintai, dicintai dan disayangi oleh orang-orang di sekitar mereka. Namun ada satu masalah yang sering diabaikan, bahwa realitanya manusia hanyalah produk sosial yang dibangun oleh peradaban, dibentuk sedemikian rupa agar menjadi mahkluk sosial, dan kenyataan ini adalah kepahitan yang paling melekat, inilah pengekangan yang absolut, dan inilah yang membuat standar bahagia menjadi terlalu universal dan konvensional. Sebuah pemahaman yang buta arah, dan cacat logika yang pelik.

Kesendirian adalah kebahagiaan yang paling fundamental, ini nyata dan bukan angan-angan belaka. Manusia seharusnya seperti ini, menjadi dirinya sendiri, menjadi bagian paling fundamental bagi dirinya sendiri, tidak terikat, tidak menipu, dan tidak munafik. Lalu apakah mereka benar-benar bahagia? ya, mereka bahagia, karena pada dasarnya kebahagiaan bukan hadir secara eksternal melainkan datang dari diri sendiri, dan untuk diri sendiri, bukan untuk membahagiakan orang lain atau membuat mereka percaya pada kita. Inilah titik tertinggi kebahagiaan yang tak terbantahkan.

No comments:

Post a Comment

Dari Tuhan ke Budak: Sebuah Anatomi Penipuan Besar-besaran

By: Fredy Agama sering disebut jalan kebenaran, sebuah lorong paling terang yang menuntun manusia dengan ritual-ritualnya yang sakral, atau ...