Thursday, 5 February 2026

Narsi Agung yang Absurd: Sebuah Kehilangan dari Kata ‘Rindu’




 

oleh: Fredy

Ada satu masalah yang sering dikatakana sebagai penantian seorang manusia pada kekasihnya, ini adalah rindu, sebuah dekadensi dari cinta, sebuah racun yang menggerogoti emosi manusia perlahan-lahan. Apa yang telah di yakini sebagai rindu seringkali menjebak, memberikan tembok pemisah anatara manusia dengan dirinya, sebuah kecelakaan yang di sengaja atas dasar cinta yang tak pasti. Banyak orang mengatakan ini wajar, dan inilah tanda bahwa dua orang tersebut saling mencintai. Anggapan ini membenarkan pernyataan bahwa cinta itu melukai, menghancurkan, bahkan membunuh. Kecemasan, penantian dan ketidak pastina merupkan bagian dari rindu ini, dan inilah bentuk dekadensinya, sebuah tragedi yang sengaja di buat untuk mengasingkan diri.

Mereka seringkali mengatakan bahwa rindu adalah bagian dari cinta, dan keduanya tak dapat dipisahkan, ini merupakan bentuk ketidakwarasan yang melekat dan mandarah daging, sebuah kebodohan yang sering di anggap keagungan cinta. Setiap kali mereka mengatakan kata rindu, mereka merasa cemas dan gelisah, lalu apakah ini normal? Mereka berpikir bahwa itu normal, namun nyatanya mereka menciptakan ketakutan baru, sebuah kekosongan yang menggrogitu hingga kesadaran dasar mereka tentang dirinya, sebuah kesadaran bahwa mereka adalah mereka yang fundamental.

Kenapa rindu begitu menakutkan dan bisa membunuh? Pertanyaan ini tak punya jawaban, dan itu lah jawabannya, sebuah pertanyaan yang menegaskan bahwa rindu memang membunuh. Lalu kenapa manusia memiliki perasaan itu? Pertanyaan semacam ini terdengar begitu mulia dan membantah, namun inilah dekadensi utamanya, bahwa ketidak mampuan mengenal diri sendiri membuat manusia terjebak pada keagungan cinta yang menyesatkan. Mereka akhirnya jatuh pada kemunafikan yang mereka ciptakan sendiri, sebuah cacat yang terus di lestarikan.

“Aku mencintaimu, aku hampa tanpamu, aku tak mampu hidup jika engkau tak ada di sisiku” Sebuah narasi puitis yang terdengar sangat mengagungkan dan romantis, mereka menyatakannya seolah inilah cinta, inilah perasaan yang paling tulus dan paling dalam, namun inilah kehampaan eksistensial yang sesungguhnya, inilah kekosongan yang sesungguhnya. Narasi yang agung akhirnya jatuh pada kenyataan bahwa tembok antara dirinya dan dirinya sudah terlalu tinggi dan keras, sudah tak bisa di hancurkan lagi, dan mereka akhirnya jatuh, sebuah kehilangan yang di sengaja, sebuah keputusasahan yang mereka bangun sendiri.

No comments:

Post a Comment

Dari Tuhan ke Budak: Sebuah Anatomi Penipuan Besar-besaran

By: Fredy Agama sering disebut jalan kebenaran, sebuah lorong paling terang yang menuntun manusia dengan ritual-ritualnya yang sakral, atau ...