oleh:
Fredy
Ada
satu masalah yang sering dikatakana sebagai penantian seorang manusia pada
kekasihnya, ini adalah rindu, sebuah dekadensi dari cinta, sebuah racun yang
menggerogoti emosi manusia perlahan-lahan. Apa yang telah di yakini sebagai
rindu seringkali menjebak, memberikan tembok pemisah anatara manusia dengan
dirinya, sebuah kecelakaan yang di sengaja atas dasar cinta yang tak pasti.
Banyak orang mengatakan ini wajar, dan inilah tanda bahwa dua orang tersebut saling
mencintai. Anggapan ini membenarkan pernyataan bahwa cinta itu melukai,
menghancurkan, bahkan membunuh. Kecemasan, penantian dan ketidak pastina merupkan
bagian dari rindu ini, dan inilah bentuk dekadensinya, sebuah tragedi yang
sengaja di buat untuk mengasingkan diri.
Mereka
seringkali mengatakan bahwa rindu adalah bagian dari cinta, dan keduanya tak
dapat dipisahkan, ini merupakan bentuk ketidakwarasan yang melekat dan mandarah
daging, sebuah kebodohan yang sering di anggap keagungan cinta. Setiap kali
mereka mengatakan kata rindu, mereka merasa cemas dan gelisah, lalu apakah ini
normal? Mereka berpikir bahwa itu normal, namun nyatanya mereka menciptakan
ketakutan baru, sebuah kekosongan yang menggrogitu hingga kesadaran dasar
mereka tentang dirinya, sebuah kesadaran bahwa mereka adalah mereka yang
fundamental.
Kenapa
rindu begitu menakutkan dan bisa membunuh? Pertanyaan ini tak punya jawaban, dan
itu lah jawabannya, sebuah pertanyaan yang menegaskan bahwa rindu memang
membunuh. Lalu kenapa manusia memiliki perasaan itu? Pertanyaan semacam ini
terdengar begitu mulia dan membantah, namun inilah dekadensi utamanya, bahwa ketidak
mampuan mengenal diri sendiri membuat manusia terjebak pada keagungan cinta
yang menyesatkan. Mereka akhirnya jatuh pada kemunafikan yang mereka ciptakan
sendiri, sebuah cacat yang terus di lestarikan.
“Aku
mencintaimu, aku hampa tanpamu, aku tak mampu hidup jika engkau tak ada di sisiku”
Sebuah narasi puitis yang terdengar sangat mengagungkan dan romantis, mereka
menyatakannya seolah inilah cinta, inilah perasaan yang paling tulus dan paling
dalam, namun inilah kehampaan eksistensial yang sesungguhnya, inilah kekosongan
yang sesungguhnya. Narasi yang agung akhirnya jatuh pada kenyataan bahwa tembok
antara dirinya dan dirinya sudah terlalu tinggi dan keras, sudah tak bisa di
hancurkan lagi, dan mereka akhirnya jatuh, sebuah kehilangan yang di sengaja,
sebuah keputusasahan yang mereka bangun sendiri.

No comments:
Post a Comment