Thursday, 3 July 2025

Nietzsche vs Psikologi: Mengapa Kita Tidak Pernah Benar-Benar Mengenal Diri Sendiri?

 

             Nietzsche vs Psikologi: Mengapa Kita Tidak Pernah Benar-Benar                                           Mengenal Diri Sendiri?

     Oleh: Ferdi Maran.

Lembaga pertama yang didedikasikan untuk penelitian “psikologis” dibuka pada abad ke-19, tepatnya pada tahun 1879 di bawah Wilhelm Wundt, tujuh tahun sebelum Beyond Good and Evil ditulis. Buku yang pada akhirnya dilarang untuk disebarluaskan oleh negara dan gereja ini dianggap sangat berbahaya bagi pembacanya. Nietzsche, filsuf yang menulisnya, mempertanyakan apakah moralitas itu benar-benar ada, dan apakah "baik" dan "jahat" memiliki makna sejati.

Jika berbicara tentang kritik Nietzsche terhadap psikologi, maka kita akan menemukan bahwa setiap kritik yang dilontarkannya bukan sekadar kritik semata, melainkan lebih seperti pertanyaan reflektif terhadap kebenaran dari ilmu jiwa itu sendiri. Walaupun banyak yang mengatakan bahwa Nietzsche adalah filsuf untuk remaja yang baru puber, ia tetaplah salah satu pemikir paling besar dalam sejarah.

Awal mula ketidaksetujuan Nietzsche terhadap pendekatan psikologi pada masanya muncul dari kritik tajamnya terhadap para psikolog yang ia anggap gagal menjelaskan asal-usul moralitas. Moralitas yang kita anut saat ini tidak muncul begitu saja dalam tatanan masyarakat. Nietzsche dalam bukunya Beyond Good and Evil menunjukkan bahwa sentimen moral di Eropa modern adalah hasil dari perjalanan panjang dan berliku—dan bahkan masih belum dipahami oleh para “ilmuwan moral.” Ia menyebut bahwa “ilmu moral” masih terasa canggung dan kaku, serta terlalu lancang dan berlawanan dengan cita rasa yang baik (Beyond Good and Evil, hlm. 106, vol. 186).

Melalui kritik ini, Nietzsche ingin membawa kita pada kesadaran bahwa moralitas adalah produk sejarah, bukan esensi mutlak manusia. Artinya, untuk memahami moral, kita perlu menelusuri asal-usulnya—bukan hanya memercayainya. Pertanyaan “mengapa kita tidak benar-benar mengenal diri sendiri?” menjadi pintu masuk untuk mempertanyakan apakah moralitas itu benar-benar ada, atau hanyalah sebuah ilusi. Pertanyaan ini membawa kita pada dilema filosofis yang telah ditanamkan sejak masa Sokrates.

Dalam Beyond Good and Evil, Nietzsche menyoroti pertentangan antara naluri dan akal—antara iman dan pengetahuan—yang telah menciptakan fondasi moral yang menyesatkan. Sokrates memulai warisan itu dengan menempatkan rasionalitas sebagai penuntun moral, namun pada akhirnya ia sendiri menyadari absurditasnya. “Mengapa seseorang harus memisahkan diri dari instingnya?” (Beyond Good and Evil, hlm. 113–114, vol. 191). Moralitas yang dibangun di atas penyangkalan naluri menjauhkan manusia dari jati dirinya yang paling dalam.

Nietzsche menilai bahwa baik Sokrates maupun Plato telah menciptakan ilusi bahwa moralitas dan kebaikan adalah hasil harmoni antara nalar dan naluri. Padahal, menurutnya, itu hanyalah bentuk pembelokan terhadap kehendak bebas manusia. Sejak saat itu, manusia tidak lagi bertindak atas kesadaran otentik, melainkan menjalani hidup di bawah bayang-bayang nilai moral yang diwariskan, bukan dipilih. Inilah akar keterasingan manusia dari jati dirinya sendiri.

Para psikolog modern menjadikan manusia bukan sebagai subjek dalam pengambilan kesimpulan dari pertanyaan-pertanyaan filosofis, melainkan sebagai objek dari pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam kepala mereka. Mereka menanamkan maksud terselubung dalam upaya menyembuhkan orang-orang yang kebingungan dengan jati diri mereka, sebab mereka sendiri sebenarnya juga tidak mengenal dirinya sendiri.

Mereka seolah-olah merasa terpanggil ketika melihat orang-orang yang mengalami krisis identitas. Namun nyatanya, itu hanyalah alibi untuk menggali lebih dalam informasi yang mereka butuhkan untuk memahami diri mereka sendiri. Jika hal semacam itu dikaitkan dengan moralitas—yang sudah ditanamkan dan diwariskan secara turun-temurun—maka dapat dikatakan bahwa moralitas hanyalah alat untuk menjatuhkan orang yang sudah jatuh dalam jurang kejatuhannya.

Seperti yang ditegaskan Nietzsche dalam Beyond Good and Evil:

“Selama utilitas yang menentukan estimasi moral hanyalah utilitas atau kegunaan yang menyukai hidup berkelompok, tidak akan ada 'moralitas cinta kasih kepada sesama'. Selama pelestarian komunitas hanya dilihat dan yang tidak bermoral dicari secara tepat dan eksklusif, dalam dugaan akan apa yang tampaknya berbahaya dalam mempertahankan komunitas.” (Beyond Good and Evil, hlm. 124, vol. 201).

Moralitas hanya menjadi skema permainan yang dimainkan oleh para psikolog untuk menjebak manusia dalam sebuah labirin pemikiran yang gelap dan penuh dengan ketidakpastian.

Upaya untuk mempertanyakan “mengapa kita tidak benar-benar mengenal diri sendiri?” menjadi ancaman yang menakutkan. Sebab, ketika pertanyaan tersebut diajukan atas dasar moralitas dan kebenaran yang diwariskan, maka pertanyaan itu hanya akan menjebak manusia ke dalam jurang kehancuran. Pertanyaan itu menjadikan manusia sebagai alat dari kebenaran palsu dan moralitas yang memperbudak.

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tidak seharusnya hanya dipertanyakan, melainkan harus dijadikan dasar dalam pembentukan kebebasan jiwa dan keteraturan hati nurani dalam mengambil keputusan tentang jati diri manusia. Pada akhirnya, pertanyaan mengenai “mengapa kita tidak benar-benar mengenal diri kita sendiri?” haruslah berakar pada diri yang bebas.

Seperti kata Nietzsche dalam Beyond Good and Evil:

“Setiap orang secara naluriah berjuang untuk membentengi diri dan privasinya, di mana ia bebas dari kebanyakan orang dan mayoritas. Di mana ia dapat melupakan ‘peraturan kemanusiaan’ dan menjadi pembeda dalam arti yang besar dan luar biasa.” (Beyond Good and Evil, hlm. 34, vol. 26).

Pertanyaan mengenai mengapa kita tidak benar-benar mengenal diri sendiri pada akhirnya bukan tentang mengikuti moralitas dan kebenaran yang diwariskan, tetapi tentang bagaimana kita bisa menjadi pembeda di antara mayoritas orang yang terjebak dalam kekangan moralitas palsu dan dogma psikologi yang menyesatkan serta tidak rasional dengan pribadi kita.


No comments:

Post a Comment

Dari Tuhan ke Budak: Sebuah Anatomi Penipuan Besar-besaran

By: Fredy Agama sering disebut jalan kebenaran, sebuah lorong paling terang yang menuntun manusia dengan ritual-ritualnya yang sakral, atau ...