Wednesday, 4 February 2026

Monolog Sang Pengantar: Sebuah Surat dari Kematian yang Tersinggung


 

oleh: Fredy

Aku adalah kematian, dan inilah yang membuatku selalu diabaikan oleh manusia, mereka berpikir bahwa aku semenakutkan itu, mereka menganggapku kepastian, namun mereka tak mau bersahabat denganku, dan ini adalah ketiadaan maknanya. Mereka selalu melihatku dengan ketakutan namun pada saat yang sama mereka terikat sangat erat denganku.

Aku tak merebut, juga tak memaksakannya, aku hanya datang untuk menjemput yang seharusnya ku jemput, namun kenapa mereka menyalahkanku? Dan bahkan sering menyalahkan Tuhan atas aku yang datang, inilah kesalahan mereka, dan apakah aku harus memberitahukannya kepada mereka sebelum aku datang? Apakah ini tidak lebih parah dari diam-diam? Lalu bagaimana cara ku menghadapi mereka?

Pertanyaan-pertanyaan itu membuatku semakin tak mengerti mahkluk-mahkluk ini. Mereka membangun menara-menara tinggi seolah akan tinggal selamanya di sana, mereka membangun hubungan-hubungan intim seolah semuanya akan abadi bersama mereka, namun mereka lupa jika aku lah yang akan abadi, aku lah yang akan menemani mereka.

Seruan mereka tentang kepastianku di rumah-rumah ibadah sangat lantang dan tajam, namun di saat yang sama hati mereka bergejolak, ada yang tak ingin mati muda, ada yang tak ingin karirnya terhenti di tengah jalan dan ada yang masih ingin dicintai dan tak mau kehilangan apa yang mereka cintai. Kecacatan ini terlalu menganga, terlalu menampilkan ketelanjangan dari kebodohan mereka, dan mereka menyebutnya mawas diri, sebuah redaksi yang di bangun atas dasar ketakutan. Kepelikan ini menghancurkan narasi besar mereka di rumah-rumah ibadah, di seminar-seminar yang berkaitan dengan ku, atau bahkan di meja-meja makan.

Lalu apa yang harus di pertanyakan lagi? Semuanya sudah nampak sangat jelas bahwa mereka itu bodoh, tolol, dan munafik. Mereka membicarakanku seolah mereka sudah siap menghadapi hariku, namun itu hanyalah sebuah narasi tanpa dasar, sebuah ketelanjangan yang di pamerkan atas dasar edukasi yang cacat, inilah bentuk tertinggi dari kebodohan peradaban manusia.

No comments:

Post a Comment

Dari Tuhan ke Budak: Sebuah Anatomi Penipuan Besar-besaran

By: Fredy Agama sering disebut jalan kebenaran, sebuah lorong paling terang yang menuntun manusia dengan ritual-ritualnya yang sakral, atau ...