oleh: Fredy
Aku adalah kematian,
dan inilah yang membuatku selalu diabaikan oleh manusia, mereka berpikir bahwa
aku semenakutkan itu, mereka menganggapku kepastian, namun mereka tak mau
bersahabat denganku, dan ini adalah ketiadaan maknanya. Mereka selalu melihatku
dengan ketakutan namun pada saat yang sama mereka terikat sangat erat denganku.
Aku tak merebut, juga
tak memaksakannya, aku hanya datang untuk menjemput yang seharusnya ku jemput,
namun kenapa mereka menyalahkanku? Dan bahkan sering menyalahkan Tuhan atas aku
yang datang, inilah kesalahan mereka, dan apakah aku harus memberitahukannya kepada
mereka sebelum aku datang? Apakah ini tidak lebih parah dari diam-diam? Lalu
bagaimana cara ku menghadapi mereka?
Pertanyaan-pertanyaan
itu membuatku semakin tak mengerti mahkluk-mahkluk ini. Mereka membangun menara-menara
tinggi seolah akan tinggal selamanya di sana, mereka membangun hubungan-hubungan
intim seolah semuanya akan abadi bersama mereka, namun mereka lupa jika aku lah
yang akan abadi, aku lah yang akan menemani mereka.
Seruan mereka tentang kepastianku di rumah-rumah ibadah sangat lantang dan tajam, namun di saat yang sama hati mereka bergejolak, ada yang tak ingin mati muda, ada yang tak ingin karirnya terhenti di tengah jalan dan ada yang masih ingin dicintai dan tak mau kehilangan apa yang mereka cintai. Kecacatan ini terlalu menganga, terlalu menampilkan ketelanjangan dari kebodohan mereka, dan mereka menyebutnya mawas diri, sebuah redaksi yang di bangun atas dasar ketakutan. Kepelikan ini menghancurkan narasi besar mereka di rumah-rumah ibadah, di seminar-seminar yang berkaitan dengan ku, atau bahkan di meja-meja makan.
Semuanya sudah nampak sangat jelas bahwa akulah yang menang di sini. Mereka membicarakanku seolah mereka sudah siap menghadapi hariku, namun itu hanyalah sebuah narasi tanpa dasar, sebuah ketelanjangan yang di pamerkan atas dasar edukasi yang cacat, inilah bentuk tertinggi dari kebodohan peradaban manusia.

No comments:
Post a Comment