Search This Blog

Featured post

Nietzsche vs Psikologi: Mengapa Kita Tidak Pernah Benar-Benar Mengenal Diri Sendiri?

Oleh: Ferdi Maran. Lembaga pertama yang didedikasikan untuk penelitian “psikologis” dibuka pada abad ke-19, tepatnya pada tahun 1879 di bawa...

Wednesday, 4 March 2026

Mengapa Bunuh Diri?

 



Bunuh diri menjadi salah satu isu tranding di kalangan generasi Z. Sebagian menganggap iba kepada orang-orang yang melakukan tindakan ini; sebagian lagi menyayangkan kenapa tindakan ini harus dilakukan, padahal mungkin saja orang tersebut masih muda, atau masih memiliki keluarga yang harus dinafkahi. Lalu, apakah yang dilakukan mereka itu benar? Manusia lemah karena ini. Manusia menjadi bodoh karena anggapan dan rasa iba ini.

Tindakan menghilangkan nyawa sendiri bukanlah sesuatu yang harus dikasihani atau disayangkan. Inilah yang seharusnya dilakukan. Apakah jika mengasihani atau menyayangkan tindakan ini membuat mereka yang telah mati akan mendengarkan atau menurutinya? Kebodohan mereka ini menyeret mereka pada penciptaan pemahaman baru dalam tindakan berbuat baik. Mereka mengatakan bahwa orang yang bunuh diri itu sebenarnya baik, rajin, rajin beribadah, dan hal-hal baik yang ia lakukan. Lalu, kenapa ia bunuh diri? Mereka menyatakan bahwa tidak mungkin tindakan ini dilakukan tanpa ada campur tangan dari luar orang tersebut, seperti lingkungan pertemanan, percintaan, akademik, dan keluarga. Namun, apakah semua itu penyebabnya? Bukankah manusia diciptakan memiliki akal dan pikiran?

Terlalu berlebihan jika mereka menganggap bahwa ada faktor-faktor luar dari orang yang mengakhiri hidupnya yang membuatnya mengakhiri hidup. Kenyataannya, mereka telah terjebak dalam sebuah siklus penghancur yang sama. Secara tidak langsung, mereka menjebak diri mereka; mereka memasang label yang sama kepada diri mereka. Dan ketika tiba saat mereka mengalami hal yang sama, mereka memilih untuk melakukan yang sama pula. Apakah ini sedih? Atau inikah yang dinamakan menyedihkan? Kemunduran pemahaman manusia tentang masalah menyebabkan mereka jatuh.

Jika faktor eksternal bisa membuat seseorang bunuh diri, lalu di mana dirinya yang fundamental? Bukankah dia sedang meragukan eksistensinya sebagai individu?

 Oleh: Fredy

No comments:

Post a Comment