By: Fredy
Manusia selalu
berpikir bahwa mereka adalah bagian penting dari peradaban, sebuah pandangan bodoh
yang terlalu di paksakan untuk dipetik maknanya dalam ketidakadilan zaman yang
terlalu membingungkan. Ketika pengharapan yang dibangun atas dasar kebebasan
terasa hambar dan sia-sia, manusia lalu jatuh dalam jurang kekosongan, dalam
kegelapan yang paling gelap dan tanpa dasar, tanpa cahaya, hanya ruang hampa dan
ketidakpastian eksistensi yang tersisa. Kita selalu menempatkan semuanya dalam
prioritas utama: harapan, makna, dan kepastian. Kita menganggap bahwa mereka
merupakan bagian penting yang harus kita selaraskan dengan perjalanan hidup
kita, namun kita tidak menyadari bahwa merekalah antagonis utamanya, mereka
yang menjebak kita dalam dilema, rasa cemas, dan putus asa yang tak berujung,
yang selalu muncul dalam bentuk yang menakutkan.
Manusia
menginginkan sesuatu yang baik-baik saja, sesuatu yang berjalan dalam
pengawasannya, dalam keselarasan dengan tujuan awalnya menjadi bagian dari
peradaban. Namun, kenyataan selalu menemukan jalan untuk membungkamnya
perlahan, menariknya jatuh ke dalam jurang kehampaan di saat ia ingin terbang
setinggi bintang. Ketika seseorang dengan lantang menyuarakan eksistensinya
sebagai bagian dari peradaban, justru di situlah ia sedang menghancurkan
dirinya sendiri, menciptakan tembok pemisah antara dirinya dengan dirinya yang
paling dasar, sebuah kegagalan menjadi individu di antara lautan individu.
Essay ini saya
racik sebagai sebuah renungan atas pertanyaan mendasar: apakah kita benar-benar
mengerti tentang diri kita yang sebenarnya? Ataukah kita malah tidak tahu apa
yang sebenarnya kita inginkan?
The
Night is Coming, sebuah tema yang sangat agung untuk digali makna di baliknya.
Pada akhirnya kita menyadari bahwa setiap fajar yang menyejukkan, mentari yang
selalu menyilaukan, atau senja yang selalu menghangatkan tidak benar-benar
abadi; mereka hanyalah bagian dari siklus yang terus berulang, ketika manusia
masih memiliki raga untuk menikmatinya. Berangkat dari semua itu, malam adalah
yang paling menakutkan. Ia selalu menampilkan adegan paling menyeramkan dari
semua siklus, dan adegan itu adalah “kegelapan”, sebuah fobia yang paling
sering dialami manusia ketika ia masih kanak-kanak, ketika ia belum mengerti
tentang dunia, ketika tawa adalah yang paling membahagiakan. Ketika beranjak
dewasa, ia menyadari bahwa “gelap” bukan sesuatu yang bisa diajak bercanda,
karena di sanalah seseorang paling menderita, merasa terasingkan, dan tidak
bisa ditebak apa yang ada di dalamnya. Malam selalu dianggap sebagai sesuatu
yang tidak ramah, sesuatu yang terlihat seperti sedang mengintai dan mengawasi.
Malam juga dianggap sebagai tempatnya para penjahat, para manusia yang
ditinggalkan, mereka yang hidup dalam kegagalan di masyarakat, dan mereka yang
hidup dalam “kenajisan” menurut orang-orang “benar”.
Ketika
berbicara tentang gelapnya malam, banyak orang akan mengaitkannya dengan
hal-hal mistis, gemerlapnya, atau bahkan orang-orang tidak waras yang ada di
dalamnya. Namun, mereka tidak menyadari bahwa pada siklus terang pun, kegelapan
datang tanpa diundang; ia datang dalam bentuk yang paling menakutkan. Badai
petir, tornado, hujan badai merupakan bagian gelap yang datang di saat siklus
paling damai sedang berjalan. Inilah sebuah kegagalan mereka yang menganggap
bahwa siklus paling damai adalah bagian penting dalam hidup mereka. Anggapan
ini kemudian runtuh ketika manusia mulai mempertanyakan apakah menjadi bagian
dari “terang” adalah yang paling tepat. Semakin dewasa seseorang, pandangan
tentang “terang” semakin berubah, sebab mereka menyadari kecacatan di dalamnya.
Ketakutan yang paling membekas hadir di sini, ketika cahaya masih sangat
teriknya, ketika anak-anak masih semangat untuk bermain. Lalu, kenapa “terang”
itu cacat? Karena di sana ada harapan, ada makna, dan ada kepastian. Inilah
yang paling menakutkan, paling pelik, dan paling mengekang. Ketika seseorang
mengejar ketiga konsep ini, mereka kehilangan bentuk dasar dari dirinya.
Harapan membuat mereka cemas dan depresi. Sebab, di sana ada tujuan yang ingin dicapai. Namun, ketika
apa yang ingin dicapai didapatnya, mereka akan merasa kosong, dan inilah bentuk
terburuknya. Makna dianggap sebagai tujuan paling mulia; orang-orang
berlomba-lomba menemukan makna dalam hidupnya. Namun, di saat yang sama, mereka
terjebak; mereka mulai kehilangan arah dan jatuh dalam kehampaan, sebuah
kebodohan yang dipertahankan sejak lama dan terus dilestarikan, kemudian diwariskan
turun-temurun dalam tatanan masyarakat konvensional. Inilah bentuk terburuk
dari dekadensi peradaban. Kemudian, ada kepastian yang membingungkan. Kematian
adalah kepastian dan itu tak terbantahkan. Namun, ketika kematian dibicarakan,
mereka menganggap hal ini tabu karena mereka berpikir bahwa kematian tidak
untuk dipermainkan. Kebodohan inilah yang membuat mereka seperti remaja puber
yang baru mengenal cinta, sebuah ketidakwarasan yang dibuat-buat. Ketika mereka
menganggap bahwa kematian adalah kepastian, mereka juga takut akan kematian.
Inilah bentuk terendah dari kebobrokan masyarakat konvensional.
Anggapan
mereka yang buruk tentang “gelap” membuat mereka terjebak dalam kebodohan itu
sendiri. Mereka hanya melihat “kegelapan” dari apa yang mereka lihat dalam
masyarakat. Mereka tidak hanya tidak mengenalnya, namun mereka juga mencibirnya
seolah-olah mereka yang paling benar. Inilah sebuah kontradiksi dari kepandaian
yang dibuat-buat, yang menganggap “malam” sebagai musuh dan siang adalah teman.
Pada
akhirnya, anggapan ini menjadi sebuah landasan yang tidak logis untuk membunuh
kebebasan mereka, sebab mereka merasa bahwa menjadi bagian dari “terang” adalah
sebuah berkah, dan menjadi bagian dari “gelap” adalah bencana. Lalu, apakah
anggapan ini menjadi benar-benar benar? Sayangnya, mereka menjebak diri mereka.
Setiap pandangan yang mengarah pada pencibiran dan isolasi total ini
mengarahkan mereka justru pada bagian paling berbahaya dari “gelap”, di mana
ketiadaan makna, kekosongan pendirian, dan isolasi diri total menjadi bagian
paling berkuasa. Mereka yang menjauhi “kegelapan” akhirnya jatuh dalam
kegelapan.
Malam
menampilkan tarian paling ikhlas dan paling jujur, tanpa topeng dan tanpa
sandiwara. Mereka yang merangkul malam sebagai teman dan bahkan sahabat menjadi
lebih tenang dan lebih jujur. Mereka bertindak sesuai apa yang mereka yakini,
sebab “malam” menawarkan kebebasan, menawarkan kehendak untuk berkuasa. Mereka
yang terjebak dalam “terang” tidak akan pernah merasakan kebebasan; terus terikat
dan terus terkurung dalam kerangkeng yang sama. Konsep harapan, makna, dan
kepastian yang mereka bangun akhirnya menjadi sebuah pasung yang mengikat.
Mereka bergerak dalam keragu-raguan dan ketakutan akan eksistensi mereka
sendiri. “Malam” hadir bukan sebagai solusi, namun ia hadir untuk menegaskan,
untuk memberi ultimatum paling brutal dan paling kejam, namun masih seperti
teman, masih merangkul.
Konsep
harapan, makna, dan kepastian memiliki produk yang semakin memperkuat
kehilangan ini. Mereka hadir dalam bentuk pendidikan yang memberi harapan,
hadir dalam bentuk pekerjaan sebagai pencarian makna modern yang menjerat dan
membunuh perlahan-lahan, dan lebih parah lagi hadir dalam hubungan yang
menciptakan kehilangan akan eksistensi, menjebak manusia dengan kata “rindu”
dan “cinta” seolah-olah diri sendiri sebagai bagian tidak berguna dari
eksistensinya. Mereka selalu menjadikan ketiga konsep ini sebagai fondasi
eksistensi mereka. Lalu, apakah ini menjadi lebih baik dan lebih bermakna?
Ketika mereka memperjelasnya, mereka sedang menciptakan konsekuensi untuk diri
sendiri. Inilah kegagalan paling gelap dalam pencarian mereka.
Kehilangan
akan eksistensi ini menciptakan persepsi paling ekstrem bahwa yang selalu
diterangi oleh cahaya adalah yang baik, dan yang ada di balik kegelapan adalah
yang terburuk. Mereka seperti memberikan penghakiman atas apa yang memang pasti
terjadi, dan memaklumi setiap kejatuhan yang terjadi di siklus terang ini.
Mereka bersembunyi di balik ketiga konsep yang mereka ciptakan ini agar mereka
tidak dihakimi oleh “malam”, agar mereka tidak disebut seorang penakut dan
pendusta. Mereka menciptakan untuk diri mereka dan kelompok-kelompok mereka dan
berharap akan tetap di sana, berharap cahaya selalu menerangi mereka. Mereka
mengatakan hal ini wajar dan seharusnya dilakukan. Namun, kenyataannya mereka
telah salah menilai, dan mereka telah jatuh.
Malam
punya cara paling halus untuk menghantar manusia beristirahat, tanpa harus
memaksa dan menghakimi. Malam tidak memberi ketakutan, namun malamlah
manifestasi dari ketakutan, tetapi dia tenang. Tidak berisik dan tidak memaksa.
Tidak seperti terang yang memaksa untuk tetap kokoh dengan kepalsuannya,
mengikat manusia dalam serangkaian aktivitas pencarian konsep-konsep ini tanpa
pernah memberikan jeda sejenak untuk berpaling. Inilah yang membuat terang
lebih menakutkan dan lebih kejam. Pencarian-pencarian yang dengan susah payah
dibangun manusia dengan keringat dan air mata bisa runtuh hanya dengan satu
serangan dari bibir yang berbicara, dari postingan media sosial, dan mereka
yang berteduh pada teranglah yang akan jatuh dalam skema yang mereka bangun
ini. Mereka semakin menciptakan jurang pemisah antara dirinya dengan dirinya
yang paling fundamental.
Setiap
raga yang bernyawa akan binasa; setiap tawa yang menggelitik akhirnya akan
pudar juga, sebab kepalsuan yang dibangun berabad-abad pada siklus paling
terang adalah menjerat. Ketidaksadaran manusia inilah yang membuat mereka
selalu memiliki celah kegagalan: penantian mereka akan harapan, pencarian mereka
akan makna, dan ketakutan mereka akan kepastian. Mereka membungkus semua itu
dengan alasan bahwa jika ini tidak dilakukan, hidup menjadi tidak berarti lagi.
Pernyataan mereka seolah-olah benar adanya, seolah-olah yang menyangkalnya
adalah orang yang sesat. Mereka membangunnya begitu megah hingga kesadaran
mereka akan eksistensi mereka sendiri runtuh. Namun, malam tidak begitu; ia
tidak menawarkan apapun, tidak memberikan nasihat maupun solusi, tetapi
memberikan fakta bahwa inilah dunia. Inilah tempat yang paling kejam dan paling
tidak bisa diprediksi. Kamu harus berjuang. Ini bukan permintaan; ini adalah
sebuah suruhan, sebuah penegasan.
Apapun
yang terjadi dalam kehidupan mereka yang menganggap terang adalah sebuah
anugerah adalah sebuah kecacatan yang tetap melekat. Mereka merajutnya dengan
teliti dan membuatnya tanpa celah agar mereka bisa melindungi kemaluan mereka
di baliknya. Mereka menjaganya seakan-akan semuanya akan terus bersama mereka.
Mereka mencari kesucian dari balik kenajisan dan itu membuat mereka merasa
bahagia. Pencapaian orang-orang yang bekerja sebagai pegawai kantoran dianggap
sebuah kesuksesan ketika dilihat dari kacamata masyarakat kelompoknya. Namun,
apakah itu benar-benar kesuksesan, atau justru hanya sebuah racun yang perlahan-lahan
menggerogoti ketenangan dan kewarasan sebagai seorang manusia? Kelompok mereka
selalu melambungkan pujian pada para pekerja ini agar mereka tetap merasa
diterima dan terus semangat. Namun, hal tersebut justru membunuh para pekerja
ini perlahan-lahan. Tuntutan pekerjaan membuat mereka merasa tertekan dan
depresi. Ini adalah bentuk sederhana dari menjauhkan diri dari diri sendiri,
dan mereka tanpa sadar, atau bahkan dengan sadar, terus melakukannya, sebab
mereka merasa bahwa inilah yang harus terus dilestarikan agar mereka tetap
diterima. Bukankah yang mereka lakukan itu merupakan bentuk bunuh diri paling
halus?
Mereka
yang berbuat baik dan menyebarkannya ke media sosial dengan alibi bahwa hal
tersebut diperbuat agar lebih banyak orang melakukannya merupakan sebuah
penipuan paling kejam yang pernah dilakukan manusia. Media sosial dijadikan
ajang kebaikan dan penjual kesedihan, seolah-olah hal tersebut adalah cara yang
benar. Tidakah mereka tahu kalau itu adalah sebuah penghinaan? Ataukah mereka
berpura-pura tidak mengetahuinya? Inilah bentuk terburuk dari kehilangan makna
dari kebaikan itu sendiri. Menyebarkan dan mengatakan kalau itu adalah kebaikan
adalah sebuah kejahatan paling brutal. Standar moral yang mereka bangun telah
runtuh oleh mereka sendiri, oleh cara pandang mereka tentang moral itu. Mereka
melakukan semuanya dengan maksud menyatakan bahwa mereka itu baik, namun pada
saat yang sama mereka melakukan kejahatan. Serangkaian perilaku ini menunjukkan
kalau manusia telah jatuh dalam jurang yang mereka bangun, standar moral yang
mereka agung-agungkan.
Manusia
menampilkan kebodohan mereka lewat sebuah hal yang pasti terjadi, yaitu
kematian. Mereka selalu berbicara tentang kematian dengan lantang dan berani.
Mereka mengumandangkannya pada rumah-rumah ibadah, seminar-seminar kematian,
seolah-olah mereka paling tahu tentangnya. Namun pada saat yang sama, lontaran
candaan pada kematian dianggap tabu dan tak seharusnya dilakukan. Mereka
menciptakan standar yang berbeda pada satu hal yang sama. Mereka memberikan
penyuluhan, namun mereka juga takut akan kematian. Bukankah ini bentuk
penyangkalan paling kejam? Mereka terus mewariskan pengajaran tentang kematian
pada kelompok mereka agar bisa terus dikumandangkan, namun mereka juga takut
mati. Seruan-seruan mereka semakin memperkuat bahwa ketiga konsep ini telah
kehilangan bentuknya. Seruan mereka semakin mempertegas bahwa manusia tidak
lagi menjadi individu yang mengenal dirinya. Mereka semakin memperkuat pasung
moralitas yang mereka pasang. Membuat jurang pemisah antara dirinya dan dirinya
yang fundamental semakin lebar. Inilah akhir dari manusia yang perkasa.
Pada saat siklus “terang” ini menampilkan jutaan adegan paling konyol dan tolol, “malam” justru membuat sesuatu yang berbeda. Malam tidak memberikan janji kepada manusia dalam bentuk apapun. Ia justru membuat pilihan pada manusia: ingin bertahan atau lari? Ia tidak menyuruh manusia memakai berbagai topeng ketika berjalan melewatinya. Ia hanya mengatakan, "Jadilah dirimu, jadilah apapun yang kau mau, tanpa kepura-puraan. Jika ingin membunuh, bunuhlah; jika ingin menangis, menangislah. Jangan menutupinya." Malam tidak menampilkan kepalsuan; malam hanya manifestasi dari ketakutan. Lalu, apakah ketakutan itu harus dihindari? Bukankah manusia selalu hidup dalam ketakutan? Lalu, untuk apa tidak berdamai dengannya? Inilah malam: menampilkan bentuk paling nyata dari semua yang selalu dikejar manusia. Cita-cita, kebaikan, dan cinta ditampilkan dengan wujud paling asli dari yang pernah dilihat manusia: depresi, kekosongan, dan mati rasa. Malam bukan hadir untuk mengobati; ia hadir sebagai penegas akan eksistensi paling fundamental dari manusia. Ia hadir untuk menegaskan bahwa kamu adalah dirimu, bukan bentuk lain dari pencapaian, bukan bentuk lain dari kebaikan, atau bahkan cinta. Pilih yang mana: pil biru atau merah? Itu pilihanmu. Jangan pernah menjadi apapun yang telah ada di masyarakat, namun jadilah apapun yang kau mau.
.jpeg)
No comments:
Post a Comment