Search This Blog

Featured post

Nietzsche vs Psikologi: Mengapa Kita Tidak Pernah Benar-Benar Mengenal Diri Sendiri?

Oleh: Ferdi Maran. Lembaga pertama yang didedikasikan untuk penelitian “psikologis” dibuka pada abad ke-19, tepatnya pada tahun 1879 di bawa...

Thursday, 12 March 2026

Malam Telah Tiba: Sebuah Ultimatum bagi Manusia yang Lupa Bahwa Mereka Akan Mati


By: Fredy

Manusia selalu berpikir bahwa mereka adalah bagian penting dari peradaban, sebuah pandangan bodoh yang terlalu di paksakan untuk dipetik maknanya dalam ketidakadilan zaman yang terlalu membingungkan. Ketika pengharapan yang dibangun atas dasar kebebasan terasa hambar dan sia-sia, manusia lalu jatuh dalam jurang kekosongan, dalam kegelapan yang paling gelap dan tanpa dasar, tanpa cahaya, hanya ruang hampa dan ketidakpastian eksistensi yang tersisa. Kita selalu menempatkan semuanya dalam prioritas utama: harapan, makna, dan kepastian. Kita menganggap bahwa mereka merupakan bagian penting yang harus kita selaraskan dengan perjalanan hidup kita, namun kita tidak menyadari bahwa merekalah antagonis utamanya, mereka yang menjebak kita dalam dilema, rasa cemas, dan putus asa yang tak berujung, yang selalu muncul dalam bentuk yang menakutkan.

Manusia menginginkan sesuatu yang baik-baik saja, sesuatu yang berjalan dalam pengawasannya, dalam keselarasan dengan tujuan awalnya menjadi bagian dari peradaban. Namun, kenyataan selalu menemukan jalan untuk membungkamnya perlahan, menariknya jatuh ke dalam jurang kehampaan di saat ia ingin terbang setinggi bintang. Ketika seseorang dengan lantang menyuarakan eksistensinya sebagai bagian dari peradaban, justru di situlah ia sedang menghancurkan dirinya sendiri, menciptakan tembok pemisah antara dirinya dengan dirinya yang paling dasar, sebuah kegagalan menjadi individu di antara lautan individu.

Essay ini saya racik sebagai sebuah renungan atas pertanyaan mendasar: apakah kita benar-benar mengerti tentang diri kita yang sebenarnya? Ataukah kita malah tidak tahu apa yang sebenarnya kita inginkan?

The Night is Coming, sebuah tema yang sangat agung untuk digali makna di baliknya. Pada akhirnya kita menyadari bahwa setiap fajar yang menyejukkan, mentari yang selalu menyilaukan, atau senja yang selalu menghangatkan tidak benar-benar abadi; mereka hanyalah bagian dari siklus yang terus berulang, ketika manusia masih memiliki raga untuk menikmatinya. Berangkat dari semua itu, malam adalah yang paling menakutkan. Ia selalu menampilkan adegan paling menyeramkan dari semua siklus, dan adegan itu adalah “kegelapan”, sebuah fobia yang paling sering dialami manusia ketika ia masih kanak-kanak, ketika ia belum mengerti tentang dunia, ketika tawa adalah yang paling membahagiakan. Ketika beranjak dewasa, ia menyadari bahwa “gelap” bukan sesuatu yang bisa diajak bercanda, karena di sanalah seseorang paling menderita, merasa terasingkan, dan tidak bisa ditebak apa yang ada di dalamnya. Malam selalu dianggap sebagai sesuatu yang tidak ramah, sesuatu yang terlihat seperti sedang mengintai dan mengawasi. Malam juga dianggap sebagai tempatnya para penjahat, para manusia yang ditinggalkan, mereka yang hidup dalam kegagalan di masyarakat, dan mereka yang hidup dalam “kenajisan” menurut orang-orang “benar”.

Ketika berbicara tentang gelapnya malam, banyak orang akan mengaitkannya dengan hal-hal mistis, gemerlapnya, atau bahkan orang-orang tidak waras yang ada di dalamnya. Namun, mereka tidak menyadari bahwa pada siklus terang pun, kegelapan datang tanpa diundang; ia datang dalam bentuk yang paling menakutkan. Badai petir, tornado, hujan badai merupakan bagian gelap yang datang di saat siklus paling damai sedang berjalan. Inilah sebuah kegagalan mereka yang menganggap bahwa siklus paling damai adalah bagian penting dalam hidup mereka. Anggapan ini kemudian runtuh ketika manusia mulai mempertanyakan apakah menjadi bagian dari “terang” adalah yang paling tepat. Semakin dewasa seseorang, pandangan tentang “terang” semakin berubah, sebab mereka menyadari kecacatan di dalamnya. Ketakutan yang paling membekas hadir di sini, ketika cahaya masih sangat teriknya, ketika anak-anak masih semangat untuk bermain. Lalu, kenapa “terang” itu cacat? Karena di sana ada harapan, ada makna, dan ada kepastian. Inilah yang paling menakutkan, paling pelik, dan paling mengekang. Ketika seseorang mengejar ketiga konsep ini, mereka kehilangan bentuk dasar dari dirinya. Harapan membuat mereka cemas dan depresi. Sebab, di sana ada tujuan yang ingin dicapai. Namun, ketika apa yang ingin dicapai didapatnya, mereka akan merasa kosong, dan inilah bentuk terburuknya. Makna dianggap sebagai tujuan paling mulia; orang-orang berlomba-lomba menemukan makna dalam hidupnya. Namun, di saat yang sama, mereka terjebak; mereka mulai kehilangan arah dan jatuh dalam kehampaan, sebuah kebodohan yang dipertahankan sejak lama dan terus dilestarikan, kemudian diwariskan turun-temurun dalam tatanan masyarakat konvensional. Inilah bentuk terburuk dari dekadensi peradaban. Kemudian, ada kepastian yang membingungkan. Kematian adalah kepastian dan itu tak terbantahkan. Namun, ketika kematian dibicarakan, mereka menganggap hal ini tabu karena mereka berpikir bahwa kematian tidak untuk dipermainkan. Kebodohan inilah yang membuat mereka seperti remaja puber yang baru mengenal cinta, sebuah ketidakwarasan yang dibuat-buat. Ketika mereka menganggap bahwa kematian adalah kepastian, mereka juga takut akan kematian. Inilah bentuk terendah dari kebobrokan masyarakat konvensional.

Anggapan mereka yang buruk tentang “gelap” membuat mereka terjebak dalam kebodohan itu sendiri. Mereka hanya melihat “kegelapan” dari apa yang mereka lihat dalam masyarakat. Mereka tidak hanya tidak mengenalnya, namun mereka juga mencibirnya seolah-olah mereka yang paling benar. Inilah sebuah kontradiksi dari kepandaian yang dibuat-buat, yang menganggap “malam” sebagai musuh dan siang adalah teman.

 

Pada akhirnya, anggapan ini menjadi sebuah landasan yang tidak logis untuk membunuh kebebasan mereka, sebab mereka merasa bahwa menjadi bagian dari “terang” adalah sebuah berkah, dan menjadi bagian dari “gelap” adalah bencana. Lalu, apakah anggapan ini menjadi benar-benar benar? Sayangnya, mereka menjebak diri mereka. Setiap pandangan yang mengarah pada pencibiran dan isolasi total ini mengarahkan mereka justru pada bagian paling berbahaya dari “gelap”, di mana ketiadaan makna, kekosongan pendirian, dan isolasi diri total menjadi bagian paling berkuasa. Mereka yang menjauhi “kegelapan” akhirnya jatuh dalam kegelapan.

Malam menampilkan tarian paling ikhlas dan paling jujur, tanpa topeng dan tanpa sandiwara. Mereka yang merangkul malam sebagai teman dan bahkan sahabat menjadi lebih tenang dan lebih jujur. Mereka bertindak sesuai apa yang mereka yakini, sebab “malam” menawarkan kebebasan, menawarkan kehendak untuk berkuasa. Mereka yang terjebak dalam “terang” tidak akan pernah merasakan kebebasan; terus terikat dan terus terkurung dalam kerangkeng yang sama. Konsep harapan, makna, dan kepastian yang mereka bangun akhirnya menjadi sebuah pasung yang mengikat. Mereka bergerak dalam keragu-raguan dan ketakutan akan eksistensi mereka sendiri. “Malam” hadir bukan sebagai solusi, namun ia hadir untuk menegaskan, untuk memberi ultimatum paling brutal dan paling kejam, namun masih seperti teman, masih merangkul.

Konsep harapan, makna, dan kepastian memiliki produk yang semakin memperkuat kehilangan ini. Mereka hadir dalam bentuk pendidikan yang memberi harapan, hadir dalam bentuk pekerjaan sebagai pencarian makna modern yang menjerat dan membunuh perlahan-lahan, dan lebih parah lagi hadir dalam hubungan yang menciptakan kehilangan akan eksistensi, menjebak manusia dengan kata “rindu” dan “cinta” seolah-olah diri sendiri sebagai bagian tidak berguna dari eksistensinya. Mereka selalu menjadikan ketiga konsep ini sebagai fondasi eksistensi mereka. Lalu, apakah ini menjadi lebih baik dan lebih bermakna? Ketika mereka memperjelasnya, mereka sedang menciptakan konsekuensi untuk diri sendiri. Inilah kegagalan paling gelap dalam pencarian mereka.

Kehilangan akan eksistensi ini menciptakan persepsi paling ekstrem bahwa yang selalu diterangi oleh cahaya adalah yang baik, dan yang ada di balik kegelapan adalah yang terburuk. Mereka seperti memberikan penghakiman atas apa yang memang pasti terjadi, dan memaklumi setiap kejatuhan yang terjadi di siklus terang ini. Mereka bersembunyi di balik ketiga konsep yang mereka ciptakan ini agar mereka tidak dihakimi oleh “malam”, agar mereka tidak disebut seorang penakut dan pendusta. Mereka menciptakan untuk diri mereka dan kelompok-kelompok mereka dan berharap akan tetap di sana, berharap cahaya selalu menerangi mereka. Mereka mengatakan hal ini wajar dan seharusnya dilakukan. Namun, kenyataannya mereka telah salah menilai, dan mereka telah jatuh.

Malam punya cara paling halus untuk menghantar manusia beristirahat, tanpa harus memaksa dan menghakimi. Malam tidak memberi ketakutan, namun malamlah manifestasi dari ketakutan, tetapi dia tenang. Tidak berisik dan tidak memaksa. Tidak seperti terang yang memaksa untuk tetap kokoh dengan kepalsuannya, mengikat manusia dalam serangkaian aktivitas pencarian konsep-konsep ini tanpa pernah memberikan jeda sejenak untuk berpaling. Inilah yang membuat terang lebih menakutkan dan lebih kejam. Pencarian-pencarian yang dengan susah payah dibangun manusia dengan keringat dan air mata bisa runtuh hanya dengan satu serangan dari bibir yang berbicara, dari postingan media sosial, dan mereka yang berteduh pada teranglah yang akan jatuh dalam skema yang mereka bangun ini. Mereka semakin menciptakan jurang pemisah antara dirinya dengan dirinya yang paling fundamental.

Setiap raga yang bernyawa akan binasa; setiap tawa yang menggelitik akhirnya akan pudar juga, sebab kepalsuan yang dibangun berabad-abad pada siklus paling terang adalah menjerat. Ketidaksadaran manusia inilah yang membuat mereka selalu memiliki celah kegagalan: penantian mereka akan harapan, pencarian mereka akan makna, dan ketakutan mereka akan kepastian. Mereka membungkus semua itu dengan alasan bahwa jika ini tidak dilakukan, hidup menjadi tidak berarti lagi. Pernyataan mereka seolah-olah benar adanya, seolah-olah yang menyangkalnya adalah orang yang sesat. Mereka membangunnya begitu megah hingga kesadaran mereka akan eksistensi mereka sendiri runtuh. Namun, malam tidak begitu; ia tidak menawarkan apapun, tidak memberikan nasihat maupun solusi, tetapi memberikan fakta bahwa inilah dunia. Inilah tempat yang paling kejam dan paling tidak bisa diprediksi. Kamu harus berjuang. Ini bukan permintaan; ini adalah sebuah suruhan, sebuah penegasan.

Apapun yang terjadi dalam kehidupan mereka yang menganggap terang adalah sebuah anugerah adalah sebuah kecacatan yang tetap melekat. Mereka merajutnya dengan teliti dan membuatnya tanpa celah agar mereka bisa melindungi kemaluan mereka di baliknya. Mereka menjaganya seakan-akan semuanya akan terus bersama mereka. Mereka mencari kesucian dari balik kenajisan dan itu membuat mereka merasa bahagia. Pencapaian orang-orang yang bekerja sebagai pegawai kantoran dianggap sebuah kesuksesan ketika dilihat dari kacamata masyarakat kelompoknya. Namun, apakah itu benar-benar kesuksesan, atau justru hanya sebuah racun yang perlahan-lahan menggerogoti ketenangan dan kewarasan sebagai seorang manusia? Kelompok mereka selalu melambungkan pujian pada para pekerja ini agar mereka tetap merasa diterima dan terus semangat. Namun, hal tersebut justru membunuh para pekerja ini perlahan-lahan. Tuntutan pekerjaan membuat mereka merasa tertekan dan depresi. Ini adalah bentuk sederhana dari menjauhkan diri dari diri sendiri, dan mereka tanpa sadar, atau bahkan dengan sadar, terus melakukannya, sebab mereka merasa bahwa inilah yang harus terus dilestarikan agar mereka tetap diterima. Bukankah yang mereka lakukan itu merupakan bentuk bunuh diri paling halus?

Mereka yang berbuat baik dan menyebarkannya ke media sosial dengan alibi bahwa hal tersebut diperbuat agar lebih banyak orang melakukannya merupakan sebuah penipuan paling kejam yang pernah dilakukan manusia. Media sosial dijadikan ajang kebaikan dan penjual kesedihan, seolah-olah hal tersebut adalah cara yang benar. Tidakah mereka tahu kalau itu adalah sebuah penghinaan? Ataukah mereka berpura-pura tidak mengetahuinya? Inilah bentuk terburuk dari kehilangan makna dari kebaikan itu sendiri. Menyebarkan dan mengatakan kalau itu adalah kebaikan adalah sebuah kejahatan paling brutal. Standar moral yang mereka bangun telah runtuh oleh mereka sendiri, oleh cara pandang mereka tentang moral itu. Mereka melakukan semuanya dengan maksud menyatakan bahwa mereka itu baik, namun pada saat yang sama mereka melakukan kejahatan. Serangkaian perilaku ini menunjukkan kalau manusia telah jatuh dalam jurang yang mereka bangun, standar moral yang mereka agung-agungkan.

Manusia menampilkan kebodohan mereka lewat sebuah hal yang pasti terjadi, yaitu kematian. Mereka selalu berbicara tentang kematian dengan lantang dan berani. Mereka mengumandangkannya pada rumah-rumah ibadah, seminar-seminar kematian, seolah-olah mereka paling tahu tentangnya. Namun pada saat yang sama, lontaran candaan pada kematian dianggap tabu dan tak seharusnya dilakukan. Mereka menciptakan standar yang berbeda pada satu hal yang sama. Mereka memberikan penyuluhan, namun mereka juga takut akan kematian. Bukankah ini bentuk penyangkalan paling kejam? Mereka terus mewariskan pengajaran tentang kematian pada kelompok mereka agar bisa terus dikumandangkan, namun mereka juga takut mati. Seruan-seruan mereka semakin memperkuat bahwa ketiga konsep ini telah kehilangan bentuknya. Seruan mereka semakin mempertegas bahwa manusia tidak lagi menjadi individu yang mengenal dirinya. Mereka semakin memperkuat pasung moralitas yang mereka pasang. Membuat jurang pemisah antara dirinya dan dirinya yang fundamental semakin lebar. Inilah akhir dari manusia yang perkasa.

Pada saat siklus “terang” ini menampilkan jutaan adegan paling konyol dan tolol, “malam” justru membuat sesuatu yang berbeda. Malam tidak memberikan janji kepada manusia dalam bentuk apapun. Ia justru membuat pilihan pada manusia: ingin bertahan atau lari? Ia tidak menyuruh manusia memakai berbagai topeng ketika berjalan melewatinya. Ia hanya mengatakan, "Jadilah dirimu, jadilah apapun yang kau mau, tanpa kepura-puraan. Jika ingin membunuh, bunuhlah; jika ingin menangis, menangislah. Jangan menutupinya." Malam tidak menampilkan kepalsuan; malam hanya manifestasi dari ketakutan. Lalu, apakah ketakutan itu harus dihindari? Bukankah manusia selalu hidup dalam ketakutan? Lalu, untuk apa tidak berdamai dengannya? Inilah malam: menampilkan bentuk paling nyata dari semua yang selalu dikejar manusia. Cita-cita, kebaikan, dan cinta ditampilkan dengan wujud paling asli dari yang pernah dilihat manusia: depresi, kekosongan, dan mati rasa. Malam bukan hadir untuk mengobati; ia hadir sebagai penegas akan eksistensi paling fundamental dari manusia. Ia hadir untuk menegaskan bahwa kamu adalah dirimu, bukan bentuk lain dari pencapaian, bukan bentuk lain dari kebaikan, atau bahkan cinta. Pilih yang mana: pil biru atau merah? Itu pilihanmu. Jangan pernah menjadi apapun yang telah ada di masyarakat, namun jadilah apapun yang kau mau.

No comments:

Post a Comment