Generasi Z atau mereka
yang lahir antara tahun 1997-2012 menjadikan Stoisisme sebagai aliran filsafat
yang mereka anut. Mereka menganggap bahwa Stoisisme merupakan jalan yang paling
aman dan nyaman untuk dilalui. Anggapan ini didasarkan pada situasi lingkungan
yang mulai keras dan tidak terkontrol. Mereka beranggapan bahwa setiap hal yang
ada di luar kendali mereka tidak perlu mereka pikirkan, sebab hanya akan
membuat pikiran mereka semakin kacau. Mereka mengatakannya seolah-olah mereka
sudah mengerti dan paham tentang Stoisisme itu sendiri. Lalu, apakah mereka
benar-benar paham? Ataukah mereka hanya mengikuti tren? Yang dalam bahasa
sekarang disebut FOMO. Semua keyakinan mereka yang menganggap bahwa Stoisisme
sebagai jalan paling tepat dan fondasi paling kuat untuk mereka menjadi sia-sia
jika menilik kembali dunia modern sekarang.
Sangat lucu memang
menganggap bahwa Stoisisme merupakan jalan yang tepat, sangat tidak masuk akal
memang menganggap bahwa aliran filsafat ini merupakan aliran paling stabil.
Mereka yang menganut aliran bobrok ini menganggap bahwa inilah jalan yang
seharusnya dilalui manusia. Sebab di dalamnya ada ketenangan dan pengendalian
emosi. Lalu, bagaimana dengan generasi muda yang bunuh diri? Bunuh diri berada
di tempat ketiga penyebab kematian, dengan angka mencapai 720 ribu jiwa atau
61% dengan rentang usia 15-29 tahun. Faktor penyebabnya jelas, yaitu depresi
dan kecemasan, tekanan akademik dan sosial, dan bullying atau cyberbullying.
Faktor-faktor ini merupakan faktor eksternal dan inilah bentuk kebobrokannya.
Apakah kemudian Stoisisme masih memiliki citra yang baik sebagai aliran paling
tepat bagi generasi muda setelah fakta ini ditampilkan?
Stoisisme menampilkan
tarian kematian yang paling kelam tanpa belas kasihan. Ia menawarkan ketenangan
palsu agar mereka yang lemah mau menjadi bagian darinya. Ia memberikan
ultimatum bahwa menjadi bagian darinya adalah keberkahan, namun dialah yang
kemudian merenggut. Manusia memang bodoh (atau lebih tepatnya tolol). Anggapan
mereka yang sangat yakin dengan aliran filsafat bobrok ini ternyata
mengantarkan mereka pada kematian paling hina, yaitu pasrah yang mulia.
Stoisisme dengan semboyan "Hidup Selaras dengan Alam" membawa
generasi paling rentan menuju kekosongan, menuju neraka yang dianggapnya mulia.
Mereka yang mempercayai
aliran bobrok ini tidak pernah berpikir, atau mungkin mereka sengaja untuk
tidak tahu; bahwa hukum rimba selalu bekerja. Alam sangat kejam. Yang kuat bisa
bertahan, namun yang lemah akan tersingkir. Mereka yang menganggap hidup
selaras dengan alam adalah yang paling tepat adalah mereka yang telah pasrah
pada singa yang kelaparan, atau pada sekumpulan hiena yang juga kelaparan.
Inilah bentuk dekadensi dari peradaban manusia. Tidak memiliki naluri bertahan
hidup, tidak lagi agresif dan ambisius. Mereka menjadikan Stoisisme sebagai
kelemahan yang paling hina, kematian yang paling buruk.
Jadi, ketika kau membaca
kutipan Marcus Aurelius di Instagram atau TikTok, lalu merasa damai, apakah itu
ketenangan sejati, atau hanya kekejaman digital yang membuatmu diam saat
seharusnya kau berteriak?

No comments:
Post a Comment