Search This Blog

Featured post

Nietzsche vs Psikologi: Mengapa Kita Tidak Pernah Benar-Benar Mengenal Diri Sendiri?

Oleh: Ferdi Maran. Lembaga pertama yang didedikasikan untuk penelitian “psikologis” dibuka pada abad ke-19, tepatnya pada tahun 1879 di bawa...

Sunday, 22 February 2026

Stoisisme: Tarian Kematian Generasi Muda


  

Generasi Z atau mereka yang lahir antara tahun 1997-2012 menjadikan Stoisisme sebagai aliran filsafat yang mereka anut. Mereka menganggap bahwa Stoisisme merupakan jalan yang paling aman dan nyaman untuk dilalui. Anggapan ini didasarkan pada situasi lingkungan yang mulai keras dan tidak terkontrol. Mereka beranggapan bahwa setiap hal yang ada di luar kendali mereka tidak perlu mereka pikirkan, sebab hanya akan membuat pikiran mereka semakin kacau. Mereka mengatakannya seolah-olah mereka sudah mengerti dan paham tentang Stoisisme itu sendiri. Lalu, apakah mereka benar-benar paham? Ataukah mereka hanya mengikuti tren? Yang dalam bahasa sekarang disebut FOMO. Semua keyakinan mereka yang menganggap bahwa Stoisisme sebagai jalan paling tepat dan fondasi paling kuat untuk mereka menjadi sia-sia jika menilik kembali dunia modern sekarang.

Sangat lucu memang menganggap bahwa Stoisisme merupakan jalan yang tepat, sangat tidak masuk akal memang menganggap bahwa aliran filsafat ini merupakan aliran paling stabil. Mereka yang menganut aliran bobrok ini menganggap bahwa inilah jalan yang seharusnya dilalui manusia. Sebab di dalamnya ada ketenangan dan pengendalian emosi. Lalu, bagaimana dengan generasi muda yang bunuh diri? Bunuh diri berada di tempat ketiga penyebab kematian, dengan angka mencapai 720 ribu jiwa atau 61% dengan rentang usia 15-29 tahun. Faktor penyebabnya jelas, yaitu depresi dan kecemasan, tekanan akademik dan sosial, dan bullying atau cyberbullying. Faktor-faktor ini merupakan faktor eksternal dan inilah bentuk kebobrokannya. Apakah kemudian Stoisisme masih memiliki citra yang baik sebagai aliran paling tepat bagi generasi muda setelah fakta ini ditampilkan?

Stoisisme menampilkan tarian kematian yang paling kelam tanpa belas kasihan. Ia menawarkan ketenangan palsu agar mereka yang lemah mau menjadi bagian darinya. Ia memberikan ultimatum bahwa menjadi bagian darinya adalah keberkahan, namun dialah yang kemudian merenggut. Manusia memang bodoh (atau lebih tepatnya tolol). Anggapan mereka yang sangat yakin dengan aliran filsafat bobrok ini ternyata mengantarkan mereka pada kematian paling hina, yaitu pasrah yang mulia. Stoisisme dengan semboyan "Hidup Selaras dengan Alam" membawa generasi paling rentan menuju kekosongan, menuju neraka yang dianggapnya mulia.

Mereka yang mempercayai aliran bobrok ini tidak pernah berpikir, atau mungkin mereka sengaja untuk tidak tahu; bahwa hukum rimba selalu bekerja. Alam sangat kejam. Yang kuat bisa bertahan, namun yang lemah akan tersingkir. Mereka yang menganggap hidup selaras dengan alam adalah yang paling tepat adalah mereka yang telah pasrah pada singa yang kelaparan, atau pada sekumpulan hiena yang juga kelaparan. Inilah bentuk dekadensi dari peradaban manusia. Tidak memiliki naluri bertahan hidup, tidak lagi agresif dan ambisius. Mereka menjadikan Stoisisme sebagai kelemahan yang paling hina, kematian yang paling buruk.

Jadi, ketika kau membaca kutipan Marcus Aurelius di Instagram atau TikTok, lalu merasa damai, apakah itu ketenangan sejati, atau hanya kekejaman digital yang membuatmu diam saat seharusnya kau berteriak?

 

No comments:

Post a Comment