Search This Blog

Featured post

Nietzsche vs Psikologi: Mengapa Kita Tidak Pernah Benar-Benar Mengenal Diri Sendiri?

Oleh: Ferdi Maran. Lembaga pertama yang didedikasikan untuk penelitian “psikologis” dibuka pada abad ke-19, tepatnya pada tahun 1879 di bawa...

Sunday, 26 April 2026

PADA MULANYA

 Oleh: Fredy

Manusia diciptakan oleh Tuhan, itulah yang dikatakana oleh para agamawan dan masyarakat yang beragama. Para saintis mengatakan manusia adalah bentuk evolusi yang berjalan jutaan tahun lamanya. Lalu siapa yang harus di percaya? Semua memilih jalannya sendiri, saling menyindir dan menyerang, saling mengklaim tentang apa yang sudah di wariskan kepada masing-masing dari mereka. Agama menyebutkan bahwa manusia di bentuk dari tanah. Apa mungkin pernyataan ini terinspirasi dari seniman-seniman patung? Sains (walaupun banyak yang tidak setuju), lewat Charles Darwin menyebutkan manusia merupakan bentuk evolusi dari kera. Bukankah hal ini merupakan sebuah penghinaan? Manusia memang selalu memberikan pernyataan-pernyataan yang mengklaim tentang diri mereka sendiri lewat instansi-instansi mereka. Namun mereka tidak pernah merenung tentang hal ini. Mereka seperti navigator yang hilang arah.

Para sintis menjadikan pendahulu mereka sebagai peta navigasi untuk mencari kebenaran-kebenaran universal baru yang mereka percaya tanpa pernah melihat diri mereka sendiri. Lalu agama tetap pada pendiriannya, tetap mengatakan bahwa manusia di ciptakan Tuhan dari tanah. Mereka seperti seorang anak kecil yang ketika melihat kemaluannya lalu bertanya kepada orang tuanya, ‘apa itu?’, tanpa tahu fungsinya. Mereka bodoh dan tolol. Mereka bukan bodoh karena tidak tahu, mereka bodoh karena puas tidak tahu. Ini bukan kebodohan yang bisa dimaafkan. Ini kebodohan yang dipilih dirawat, dan  diwariskan dengan bangga. Kebenaran apa yang sebenarnya dicari dari para sintis? Apakah tentang diri mereka? Ataukah karena mereka tidak benar-benar mengenal diri mereka sendiri? Lalu bagaimana dengan agama? Bukankah mereka lebih bodoh dari para saintis? Mereka terus mempertahankan narasi mereka yang sesat itu tanpa pernah bertanya di mana orang yang menciptakan mereka. Ketika ada yang bertanya tentang Tuhan kepada para pemuka-pemuka agama, mereka akan menjawab bahwa Tuhan ada di dalam hati setiap manusia. Pernyataan ini terdengar sangat mulia, sangat agung, dan sangat sakral. Tapi bukankah itu bentuk penghindaran paling halus? Bukankah dengan memberi pernyataan seperti itu membuat seseorang berhenti bertanya lebih jauh?

Setelah semuanya itu, kemana lagi manusia harus mencari jawaban atas dirinya sendiri? Manusia telah dibodohi selama berabad-abad, dan hingga sekarang mereka masih saja bodoh, mereka masih saja mempertahankan apa yang mereka percaya, masih saja memperdebatkan apa yang menjadi pembeda diantara mereka. Manusia telah masuk dalam jurang yang mereka bangun susah payah selama berabad-abad, dan mereka merasa sangat nyaman di dalam jurang yang gelap, pengap, bau, dan kotor itu. Mereka tak pernah sekali saja berpikir untuk meninggalkan jurang itu dan melihat sesaat yang lebih terang di luar jurang itu. Dekadensi yang di bangun sepanjang perjalanan mereka menjadi sebuah keyakinan boborok yang diangung-agungkan.

No comments:

Post a Comment