Nietzsche vs Psikologi: Mengapa Kita Tidak Pernah Benar-Benar Mengenal Diri Sendiri?
Oleh: Ferdi Maran.
Lembaga
pertama yang didedikasikan untuk penelitian “psikologis” dibuka pada abad
ke-19, tepatnya pada tahun 1879 di bawah Wilhelm Wundt, tujuh tahun sebelum
Beyond Good and Evil ditulis. Buku yang pada akhirnya dilarang untuk
disebarluaskan oleh negara dan gereja ini dianggap sangat berbahaya bagi pembacanya.
Nietzsche, filsuf yang menulisnya, mempertanyakan apakah moralitas itu
benar-benar ada, dan apakah "baik" dan "jahat" memiliki
makna sejati.
Jika
berbicara tentang kritik Nietzsche terhadap psikologi, maka kita akan menemukan
bahwa setiap kritik yang dilontarkannya bukan sekadar kritik semata, melainkan
lebih seperti pertanyaan reflektif terhadap kebenaran dari ilmu jiwa itu
sendiri. Walaupun banyak yang mengatakan bahwa Nietzsche adalah filsuf untuk
remaja yang baru puber, ia tetaplah salah satu pemikir paling besar dalam
sejarah.
Awal
mula ketidaksetujuan Nietzsche terhadap pendekatan psikologi pada masanya
muncul dari kritik tajamnya terhadap para psikolog yang ia anggap gagal
menjelaskan asal-usul moralitas. Moralitas yang kita anut saat ini tidak muncul
begitu saja dalam tatanan masyarakat. Nietzsche dalam bukunya Beyond Good and
Evil menunjukkan bahwa sentimen moral di Eropa modern adalah hasil dari
perjalanan panjang dan berliku—dan bahkan masih belum dipahami oleh para
“ilmuwan moral.” Ia menyebut bahwa “ilmu moral” masih terasa canggung dan kaku,
serta terlalu lancang dan berlawanan dengan cita rasa yang baik (Beyond Good
and Evil, hlm. 106, vol. 186).
Melalui
kritik ini, Nietzsche ingin membawa kita pada kesadaran bahwa moralitas adalah
produk sejarah, bukan esensi mutlak manusia. Artinya, untuk memahami moral,
kita perlu menelusuri asal-usulnya—bukan hanya memercayainya. Pertanyaan
“mengapa kita tidak benar-benar mengenal diri sendiri?” menjadi pintu masuk
untuk mempertanyakan apakah moralitas itu benar-benar ada, atau hanyalah sebuah
ilusi. Pertanyaan ini membawa kita pada dilema filosofis yang telah ditanamkan
sejak masa Sokrates.
Dalam
Beyond Good and Evil, Nietzsche menyoroti pertentangan antara naluri dan
akal—antara iman dan pengetahuan—yang telah menciptakan fondasi moral yang
menyesatkan. Sokrates memulai warisan itu dengan menempatkan rasionalitas
sebagai penuntun moral, namun pada akhirnya ia sendiri menyadari absurditasnya.
“Mengapa seseorang harus memisahkan diri dari instingnya?” (Beyond Good and
Evil, hlm. 113–114, vol. 191). Moralitas yang dibangun di atas penyangkalan
naluri menjauhkan manusia dari jati dirinya yang paling dalam.
Nietzsche
menilai bahwa baik Sokrates maupun Plato telah menciptakan ilusi bahwa
moralitas dan kebaikan adalah hasil harmoni antara nalar dan naluri. Padahal,
menurutnya, itu hanyalah bentuk pembelokan terhadap kehendak bebas manusia.
Sejak saat itu, manusia tidak lagi bertindak atas kesadaran otentik, melainkan
menjalani hidup di bawah bayang-bayang nilai moral yang diwariskan, bukan
dipilih. Inilah akar keterasingan manusia dari jati dirinya sendiri.
Para
psikolog modern menjadikan manusia bukan sebagai subjek dalam pengambilan
kesimpulan dari pertanyaan-pertanyaan filosofis, melainkan sebagai objek dari
pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam kepala mereka. Mereka menanamkan maksud
terselubung dalam upaya menyembuhkan orang-orang yang kebingungan dengan jati
diri mereka, sebab mereka sendiri sebenarnya juga tidak mengenal dirinya
sendiri.
Mereka
seolah-olah merasa terpanggil ketika melihat orang-orang yang mengalami krisis
identitas. Namun nyatanya, itu hanyalah alibi untuk menggali lebih dalam
informasi yang mereka butuhkan untuk memahami diri mereka sendiri. Jika hal
semacam itu dikaitkan dengan moralitas—yang sudah ditanamkan dan diwariskan
secara turun-temurun—maka dapat dikatakan bahwa moralitas hanyalah alat untuk
menjatuhkan orang yang sudah jatuh dalam jurang kejatuhannya.
Seperti
yang ditegaskan Nietzsche dalam Beyond Good and Evil:
“Selama
utilitas yang menentukan estimasi moral hanyalah utilitas atau kegunaan yang
menyukai hidup berkelompok, tidak akan ada 'moralitas cinta kasih kepada
sesama'. Selama pelestarian komunitas hanya dilihat dan yang tidak bermoral
dicari secara tepat dan eksklusif, dalam dugaan akan apa yang tampaknya
berbahaya dalam mempertahankan komunitas.” (Beyond Good and Evil, hlm. 124,
vol. 201).
Moralitas
hanya menjadi skema permainan yang dimainkan oleh para psikolog untuk menjebak
manusia dalam sebuah labirin pemikiran yang gelap dan penuh dengan
ketidakpastian.
Upaya
untuk mempertanyakan “mengapa kita tidak benar-benar mengenal diri sendiri?”
menjadi ancaman yang menakutkan. Sebab, ketika pertanyaan tersebut diajukan
atas dasar moralitas dan kebenaran yang diwariskan, maka pertanyaan itu hanya
akan menjebak manusia ke dalam jurang kehancuran. Pertanyaan itu menjadikan
manusia sebagai alat dari kebenaran palsu dan moralitas yang memperbudak.
Pertanyaan-pertanyaan
semacam itu tidak seharusnya hanya dipertanyakan, melainkan harus dijadikan
dasar dalam pembentukan kebebasan jiwa dan keteraturan hati nurani dalam
mengambil keputusan tentang jati diri manusia. Pada akhirnya, pertanyaan
mengenai “mengapa kita tidak benar-benar mengenal diri kita sendiri?” haruslah berakar
pada diri yang bebas.
Seperti
kata Nietzsche dalam Beyond Good and Evil:
“Setiap
orang secara naluriah berjuang untuk membentengi diri dan privasinya, di mana
ia bebas dari kebanyakan orang dan mayoritas. Di mana ia dapat melupakan
‘peraturan kemanusiaan’ dan menjadi pembeda dalam arti yang besar dan luar
biasa.” (Beyond Good and Evil, hlm. 34, vol. 26).
Pertanyaan
mengenai mengapa kita tidak benar-benar mengenal diri sendiri pada akhirnya
bukan tentang mengikuti moralitas dan kebenaran yang diwariskan, tetapi tentang
bagaimana kita bisa menjadi pembeda di antara mayoritas orang yang terjebak
dalam kekangan moralitas palsu dan dogma psikologi yang menyesatkan serta tidak
rasional dengan pribadi kita.